Monday, July 18, 2016

Program kehamilan edisi pijat tradisional

        Hai semua, sepertinya sudah berabad-abad lamanya saya tidak menulis di blog. Pertama-tama saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H buat teman-teman muslim dan muslimah yang merayakan ♥ Taqaballahu minna wa minkum:)

        Masih dalam suasana bulan Syawal, saya mau berbagi cerita seputar program kehamilan (promil) kami (saya dan suami) selama ramadhan. Kalau sebelumnya saya banyak bercerita dari segi medis maupun psikologis, nah sekarang saya mau cerita pengalaman promil saya dari segi alternatif melalui pijat tradisional.


        Berawal dari silaturahim lebaran kerumah ibu mertua didaerah Jawa Timur tepatnya di Nganjuk, Ibu menyarankan kami mencoba pijat di langganan beliau, namanya Mbok Nah. Karena kita memang tidak ada agenda lain selain main kerumah Ibu, dan dalam rangka menyenangkan beliau, toh kami pikir apa salahnya dicoba. Apalagi pada dasarnya kami berdua suka pijat hehe. Setelah sholat dhuhur berangkatlah kami bertiga (saya, suami, dan ibu) ke rumah Mbok Nah. Sepanjang perjalanan yang panas terik dan jauh keluar masuk desa, lewat pinggir sawah, dsb, saya ketiduran dan dibangunkan setelah sampai didepan rumah si Mbok.

        Pertama membuka mata, saya langsung terpukau dengan halaman rumah si Mbok, penuh dengan padi yang dijemur. Rumahnya didesa pelosok, sederhana tapi asri. Ibu mewanti-wanti juga jangan kaget kalo si Mbok ini hanya bisa ngomong bahasa Jawa dan agak kurang pendengarannya. Oke, here we go ♥

        Terus terang saya sama sekali tidak berharap banyak dengan terapi kali ini. Fakta bahwa si Mbok Jawa tulen, tidak bersekolah dan tinggal di pedalaman desa, membuat saya menyiapkan mental kalau-kalau nanti terapi alternatifnya akan sangat-sangat tradisional sekali. Somehow mungkin agak-agak kejawen dan tidak rasional *sorry*.

        Bertemu pertama kalinya dengan Mbok Nah, yaaa 100% sesuai dengan perkiraan saya. Penampilannya sangat bersahaja, memakai jarik batik, dan pakaian dalam kemben ala orang jaman dulu. Tebakan saya sih usianya sekitar 80 tahun. Kulitnya hitam legam terbakar sinar matahari, perawakannya kurus kekar, rambutnya putih berhias uban, giginya ompong selang-seling, dan orangnya suka sekali ketawa. Suaranya keras! Menggelegar mengimbangi suara kita pada saat ngobrol. Dan orangnya ekspresif sekali, bikin saya terpingkal-pingkal tertawa walaupun saya tidak mengerti artinya apa yang dibicarakan. Si Mbok kalau ngobrol suka memakai istilah Jawa yang bahkan saya pun roaming. Terpaksa sering-sering kode-kode sama ibu sama suami minta di translate wkwkwk

        Mbok Nah tinggal berdua dengan suaminya. Keduanya benar-benar hanya tinggal berdua, karena tidak memiliki anak, namun punya 8 anak angkat dan kesemuanya sukses mapan, disekolahkan hingga lulus perguruan tinggi. Aktivitas sehari-hari mereka ngarit padi disawah dan ngangon sapi. Sapinya banyak, ada 16 ekor, sawahnya juga luas, rumahnya juga. Jadi si Mbok Nah mau mijet orang-orang murni hanya karena untuk menolong, bukan mencari uang sebagai sumber pendapatan utama. Saya kagum dengan mereka berdua. Mungkin udah termasuk kaya raya banget ya didesanya, tapi penampilan dan cara hidup mereka sangat sederhana apa adanya.

        Oke, lanjut cerita terapi. Saat awal datang, ibu yang banyak ngomong ke si Mbok pakai bahasa Jawa. Si Mbok langsung memanggil saya mendekat sambil cerita panjang lebar dengan penuh ekspresif. Dia bilang dari awal kalau dia hanya bisa berusaha, kalau belum dikasih anak,  si Mbok ngapunten (minta maaf), si Mbok bilang mau ngecek "wadahnya" dulu, which is saya sang istri. Baru kemudian bibitnya (suami). Saya menyimak  semua perkataan si Mbok sepenuh hati sampai ketawa-ketawa selain karena ekspresinya lucu banget, karena saya ngerti cuman separo-separo doang yang diomongin. Suami malah lebih ngakak lagi lihat kami berdua, sambil sesekali nyeletuk "kamu ngerti g bun artinya, kok ketawa2 dari tadi". Zonk

        Saya diminta berbaring terlentang sambil lutut ditekuk. Sekilas saya lihat si Mbok baca basmalah terus berdoa, sambil mulai meraba sekitar perut saya sambil sedikit ditekan-tekan. Tangan si Mbok kurus dan panjang, tapi ternyata kalo buat mijet, hmpfh manteph gan! Antara kena kukunya yang panjang sama emang pijetannya maknyos beberapa kali saya nyengir menahan sakit, sambil aduh aduh. Tapi dasar si Mboknya emang g denger dan lagi asik cerita, lanjut aja tuh menguleni perut saya sambil cerita dan ketawa-ketawa. Sekali lagi suami cekikian dan ibu nowel si Mbah ngasih kode suruh lihat kesaya yang udah meringis2 g jelas.

        Diagnosa Mbok Nah:
1. Pertama kali dese meraba sambil pijet-pijet perut, lokasinya benar. Posisi yang namanya ovarium, tuba valopi, dkk memang disebelah sono. Tenanglah hatiku. Si Mbah kemudian bilang dalam bahasa jawa yang sudah diterjemahkan kurang lebih begini. Ini bagus semua kok nak, posisinya, dan tidak ada PERLEKATAN. uh wow si Mbah medis banget sissttt. Istilah perlekatan pertama kali saya dengar pada saat tes Hsg, dimana pada waktu itu hasilnya alhamdulillah paten. Untuk cerita tentang tes Hsg nanti lain waktu saya bahas yaa. Sekarang saya masih terpukau mendengar celotehan si Mbah. Sambil lirik-lirikan ke suami pandangan "Lha kok dia tau ya"

2. Kemudian si Mbah berpindah arah pijetan ke bagian atas dekat ujung tulang rongga dada. Dan ekspresinya berubah serius. Bagian yang dia pegang itu asli sakit sisstt. Si Mbah lalu nyeletuk lagi yang di bahasa Indonesiakan menjadi: Oalah nak, apa kamu itu masih punya angen-angen (mimpi) toh. Apa kamu pingin .............. Itu kamu pikirin terus selama ini, mengalahkan pikiran untuk punya anak. Jadinya belum mantep. DANG! Saya terbengong-bengong luar biasa. Suami apalagi. Kita berdua lalu kompak bilang iya bener mbah dengan penuh takjub sambil lihat-lihatan pandangan "gokil, si Mbah kok tahu lagi".

        Kemudian si Mbah nyeletuk panjang lebar, yang bagi saya itu nasehat yang sungguh luar biasa melebihi nasehat yang diberikan oleh psikolog-psikolog di rubrik majalah, bahkan nasehat dari dr.SpOg langganan saya. Celetukan-celetukan dari si Mbah yang saya underestimate di awal, yang saya posisikan tidak lebih berpendidikan dari ahli-ahli yang saya datangi selama ini, justru terdengar menjadi nasehat paling indah dan menyentuh hati saya sedemikian dalamnya. Di akhir sesi pijat si Mbah membesarkan hati saya. Tanah saja nyuwun (minta) bibit ke Gusti Allah, diberi, apalagi manusia kan nak. Sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang habis termakan usia

        Saya juga sempat bertanya lagi ke si Mbah, saya ada pantangan makan apa? Atau aktivitas apa yang sebaiknya saya hindari. Jawabannya simpel aja, tidak ada, makan saja yang kamu mau, wong kamu sehat (nunjuk saya), kamu sehat (nunjuk suami). Kalian itu persi (kalau tidak salah dengar), ibarat sapi itu jenis unggul. Kalau dijual harganya mahal. Kalau sapi biasa dijual sekian juta, kalian itu sekian juta. Kupingnya kayak gini lho blablabla sambil asik cerita segala macam ternaknya membiarkan kami berdua ngakak2 tanpa henti dikatain sapi.

        Cerita ini saya tulis sebagai pengingat diri, suatu ketika Allah kasih saya amanah putra putri, kisah ini akan jadi kenangan indah betapa perjuangan dan rasa syukur kami merayu Allah. Sekaligus sharing pengalaman buat teman-teman khususnya yang sedang sama-sama berjuang program kehamilan, untuk terus bersikap positif, dan terus introspeksi diri, siapa tahu, seperti yang saya alami, dari segi medis oke, gaya hidup sehat, makan dijaga, dari segi finansial siap, eh ndilalah ternyata pikiran saya yang tidak sehat XD. 

        Manusiawi sekali kita punya banyak impian, tinggal baik-baiknya kita saja mengatur pikiran dan keseimbangan hidup. Mind, body, and soul harus fokus bener. Kami masih punya PeEr besar berusaha mewujudkan angen-angen itu agar segera bisa fokus. Mantep. Satu. Pikiran. Siap menerima amanah anak. Mungkin selama ini dibibir, pikiran , dan kemauan sih pingin-pingin-pingin banget hamil dan punya anak, apalagi kami sudah 3tahun lebih menikah. Mungkin juga pinginnya lebih banyak karena pengaruh orang-orang dan rasa kompetitif pembuktian kalo kami normal dan sehat. Entahlah.  Mungkin juga deep down in my mind, ada keraguan atau ketakutan barang sedikit saja bisa g ya saya jadi ibu yang baik. Saya nanti begini dulu deh, udah siap semua baru punya anak, atau, puas-puasin travelling ah mumpung berdua, atau, udah enak banget nih hidup saya kerjaan karir lancar, punya ponakan bayi lucu, keluarga besar happy, teman-teman yang baik, lingkungan kondusif, hobi yang menyenangkan, saya bisa lakukan apapun yang saya inginkan, semau-maunya saya saja, g bisa masak tinggal jajan, g usah cuci setrika udah dilaundry, g usah bangun pagi pas weekend, sudah terlanjur nyaman ngurusin diri sendiri dan suami, menikmati hidup berdua. Di mind set kami mungkin ini adalah part of our lifetime yang jadi zona PALING nyaman buat kami berdua. Thats why mind set itu juga yang ngeblock kehadiran bayi dikehidupan kita, mungkiiiin :) terlepas dari rejeki anak itu murni keputusan Allah, sejak saat itu, saya mulai mempersiapkan hidup saya untuk datangnya anak. Saya jadi tidak malas lagi. Bangun lebih pagi, taking care all domestic stuff, rajin beberes, cuci, mulai berlajar mandiri selayaknya rumah tangga semua hal dikerjakan sendiri. Kurang-kurangin nonton film hingga larut malam agar jam biologis normal layaknya seorang ibu. Kurang-kurangin jajan baju di online shop karena harus mikirin kebutuhan anak. Kemarin-kemarin wish listnya travelling, perencanaan keuangan nabung untuk travelling, sekarang mulai berpikir investasi buat anak nanti. Banyak hal yang berubah dalam hidup saya saat ini. Semua berkat kehendak Allah melalui celoteh Mbok Nah part 1. Have a great day ♥

7 comments:

  1. Listiaaaa.... thanks for sharing ya, inshaa allah di waktu yang tepat kamu dan suami dapat momongan, aamiin! :)

    ReplyDelete
  2. Seru amatan ceritanyaa. Kebayang aku jg pasti roaming tuh, hahaha. Semoga indah pada waktunya ya listya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya naaa, si mboknya lucuu soalnya. Aamiin makasi doanya lisnatul jannah ♥♥♥

      Delete
    2. Jadi bayangin soalnya lis, hahahaha. Masama listyaaa..

      Delete
  3. the power mbah-mbah jawa tia, aku selalu suka konsultasi dengan para sesepuh nasihat yang awalnya mungkin kita angggap enteng kalau mereka yang menyampaikan berasa maknyus gimana gitu.

    semangat ya tia, kalau udah waktunya pasti dikasih rejeki keturunan yang baik, amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nuke, justru celetukan2nya yg polos itu malah paling mengena dihati :) aamiin ♥ makasi doanya

      Delete